Sebuah sms yang saya terima sekitar 2 bulan lalu dari teman saya Bustanil Husni, telah membawa saya mendarat di kota Banjarmasin, sebuah kota tua yang pernah dikuasai banyak kerajaan, mulai Hindu sampai Islam. Tetapi cukuplah sampai disini saya bicara soal sejarah, karena saya bukan guru sejarah, dan (untuk saat ini) bukan itu yang mau saya tulis.
Saya mendarat di suatu bandara bernama Syamsudin Noor, yang saya yakin orang baik, yang juga adalah pangkalan TNI AU cabang Banjarmasin. Bandara tersebut baik-baik saja, dan setidaknya ia punya dua hal yang saya suka tentang bandara, barisan pramugari Lion Air (mohon diperhatikan kalau ini sifatnya jamak) dan counter Dunkin Donuts.

Barisan Pramugari Lion Air

Counter Dunkin Donuts
SMS Bustanil Husni itu berbunyi kira-kira “Bay, ada konser J-Rocks tanggal 21 Mei di Banjarmasin, mau nonton tak?”. Maka dari itu taksi lantas kunaiki. Kududuk di belakang pak supir yang sedang bekerja, ber-BBM ria sambil menyetir alakadarnya. Tujuannya adalah Hotel Banjarmasin Indah tempat dimana konsernya diadakan, dan tiketnya dijual. Sesampainya disana, setelah bertanya dan mengambil uang, maka pergerakan dilanjutkan ke sebuah bangunan bertingkat, dimana ada segerombolan anak muda sedang bercengkerama. Terjadilah sebuah dialog :
Saya : “Maaf, kalau mau beli tiket J-Rocks di sebelah mana yah?”
Anak Muda : “Ooo, disebelah sini, ayo..”,sambil beranjak menunjukkan arah
Anak Muda : “Mas dari fans club kota mana?”
Saya : “Oh..bukan, saya cuma mau nonton aja.”
Anak Muda : “Ooo, mas wartawan ya?”
Saya : “Bukan, saya cuma mau nonton saja.”
Anak muda itu tampak tidak puas dan sekarang saya menyesal tidak tanya namanya walaupun sudah mengucapkan terima kasih.
Beberapa jurus kemudian, tiket pun saya beli dari seorang mbak, tiga lembar, untuk saya, Bustanil Husni dan temannya yang nanti menjadi teman saya juga : Bonar. Ow…saya baru sadar, Bayu, Bustanil dan Bonar…BBB!

Tiket
Hari itu masih sore, sedangkan konsernya malam hari, maka saya perlu menghabiskan waktu, kemanapun, asal bukan disini. Seorang bell boy saya minta pertolongannya untuk mencarikan taksi, dalam penantian, dia bilang “Mas, mau nonton J-Rocks yah?”, Saya jawab “Eh, Iya mas” dan dia berkata lagi “Itu, J-Rocksnya sedang makan di coffee shop, duduk paling pojok, masuk aja, siapa tau bisa dapet tanda tangan, hehehe.” Seumur hidup saya belum pernah dapet tanda tangan artis, kecuali Deddy Mizwar dulu di kampus. Saya malu, dan saya pun bilang “Ah, enggak ah mas, malu.” Sang Bell Boy lantas bilang “Oh, ya sudah, tapi mas bisa nunggu di dalam, nanti kalau taksinya datang, saya beritahu.”
Saya pun menunggu, sambil mengirim pesan singkat ke teman saya Dika, yang saat itu saya yakin masih bekerja, tapi sempat membalas pesan saya. Sempat pula saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, walau sesaat, J-Rocks sedang makan sore. Tapi kemudian saya beranjak, karena taksinya sudah datang.
Waktu pun saya lalui dengan mengunjungi Masjid Agung Sabilal Muhtadin, yang konon adalah terbesar kedua setelah mesjid Istiqlal (mungkin pernah..), ngopi di kedai kopi Ayuha (ini saya yang ngasih nama) dan nonton alay2 berdance ria. Sampai akhirnya, bukan angin, tapi tukang ojeg membawa saya ke rumah makan Soto Banjar dengan nama unik : ” Soto Banjar Bawah Jembatan Banua Anyar”, mungkin karena letaknya di bawah jembatan di daerah Banua Anyar? mana saya tahu, saya tidak sempat bertanya. Saya juga tidak bisa meyakini, kalaupun memang entah kenapa ada lukisan besar Kaisar Cina disana, apakah di pemilik rumah makan masih keturunan Kaisar Cina.

Sabilal Muhtadin

Ayuha

Kaisar Cina
Bustanil Husni datang menjemput saya, disertai rekannya yang bernama Sutiono. Sayangnya bukan Sutiono yang mencetak gol tunggal kemenangan Persib atas Petrokimia Putra di final Liga Indonesia tahun 1994. Bustanil Husni merasa lapar, maka kami singgah di rumah makan Sate Kijang. Takdir membawa saya kembali ke bandara, menjemput Bonar Noviasta. Trio BBB pun lengkap sudah.

Bustanil Husni dan Sate Kijang
Trio BBB lantas melenggang ke HBI, untuk menonton J-Rocks. Mantap memang ini band, penampilan live mereka sangat atraktif, walaupun lagi-lagi saya mendapati hal aneh mengenai audience di Kalimantan ini, mereka pelit tepuk tangan. Mengapa oh mengapa?

Kau Curi Lagi
Malam pun diakhiri dengan perbincangan ringan trio BBB, walaupun saya baru bertemu Bonar Noviasta, tetapi kami cukup tersambung, tanpa perlu kabel. Good friends and nice coffee will always give you a wonderful night. Mantap!.
untuk disambung..